
Oleh : Roficho Khoiruanisa, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, IAIN Palangka Raya
Pada akhir-akhir tahun ini dan pada beberapa bulan terakhir, banyak sekali dikabarkan seseorang depresi atau adanya gangguan terhadap kesehatan mental yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Kasus ini marak terjadi yang berawal dari melukai diri dengan menggunakan benda-benda tajam, menggunakan zat kimian yang ada disekitar, atau jatuh dari ketinggian bisa dari tebing, Gedung, bisa juga dari jembatan. Kasus bunuh diri akubat depresi ini sampai belakangan ini maraknya dimunculkan dalam berita. Terjadinya bunuh diri ini, marak terjadi oleh kalangan pelajar, dan tidak sedikit pula dilakukan oleh pekerja hingga seorang figuran ternama pun tak luput dalam kasus yang disebabkan depresi ini. Hal ini menjadi problem yang cukup signifikan di dalam ruang lingkup kehidupan masyarakat dan berbagai kalangan.
Depresi sendiri merupakan suatu gangguan terhadap kondisi emosional seseorang secara berkepanjangan dan berpengaruh kepada cara berfikir, prilaku dan juga perasaan. Hal ini terjadi karena adanya pemicu dari depresi yaitu banyaknya tekanan dalam diri, menumpuknya emosional yang di pendam sendiri, banyak pikiran, merasa tidak berguna, merasa beban atau keberatan terhadap suatu hal yang di jalani, tidak berfikir dengan rasional.
“Beban dari gangguan kejiwaan, seperti depresi dan gangguan kecemasan, juga paling sering dialami oleh orang muda ( 10 – 29 tahun) di seluruh dunia” (whiteford, et.al.,2013)
Dari kutipan tersebut dan beberapa riset dari WHO pun mengatakan kurang lebih hal yang sama mengenai usia kalangan yang dapat terserang penyakit depresi, maka disini terlihat jelas bahwa usia yang muda pun rentan terhadap depresi, yang mana usia tersebut merupakan kalangan muda yang memasuki beranjak remaja dan usia produktif. Hal itu bisa terjadi dari faktor lingkungan yang kurang mendukung diri, kurangnya terbuka terhadap sesuatu yang menjadikan emosional tersebut menumpuk didalam diri. Hal ini menjadi pacuan bagi orang sekitar untuk lebih menyadari dan peduli terhadap orang terdekat.
Disebutkan pada saat Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia ( World Suicide Prevention Day 22) pada 10 September 2022, WHO menyatakan bahwa depresi menjadi urutan nomor 4 penyakit di dunia yang menjadikan gangguan masalah kesehatan yang utama. Menurut WHO pada tahun 2019 terdapat sekitar 800.00 jiwa di dunia dalam hitungan per tahun yang meninggal akibat bunuh diri. Dalam analisisnya terdapat pula sebanyak 55% orang depresi mempunyai pemikiran bunuh diri.
Indonesia mendapat urutan ke 5 besar dalam angka bunuh diri tertinggi setelah negara tetangga Malaysia, menurut WHO. Akan tetapi dalam perkiraan jumlah yang kongkrit bisa saja lebih tinggi karena Indonesia sendiri belum memiliki sistem pencatatan kematian bunuh diri. Yang mana dalam kasusnya dianggap sebagai suatu tragedi kecelakaan atau pun tidak tertulis bunuh diri yang menyebabkan adanya ke khawatiran dan menjadikan suatu stigma di masyarakat, sehingga terdapatnya penolakan dengan adanya kasus bunuh diri. Hal ini terlihat bahwa masih ada yang kurang terhadap bentuk kesehatan mental dan rasa kepedulian dengan diri dan juga orang sekitar.
Dimasa covid-19 banyaknya kematian mulainya melonjak diantara kematian tersebut selain virus terdapat pula terjadi kematian disebabkan oleh depresi. Pada saat itu menjadikan suatu kesulitan yang sangat berdapak pada manusia yaitu dalam bidang sosial, ekonomi dan pendidikan. dalam riset WHO, menyatakan bahwa “angka yang disebabkan bunuh diri bisa sampai satu juta pertahun di seluruh dunia”. Maka dari itu dibutuhkan kesadaran terhadap orang sekitar terhadap sesama mau itu dari kerabat terdekat, saudara, teman, pacar atau rekan kerja. Siapapun orang-orang yang berada disekeliling alangkah baik adanya pendekatan dengan saling mendengarkan tanpa adanya deskriminasi dalam menanggapinya. Karena dengan mendengarkan hal tersebut dapat membantu bagi pihak yang memiliki masalah untuk meringankan sedikit beban yang ia miliki atau membuat ia merasa dihargai dan dengan adanya seseorang dan aura positif yang diberikan membantu membakitkannya dan tidak membuatnya merasa tidak sendiri dalam menghadapi problem yang dijalaninya.
Dalam masalah ini dapat ditangani dengan cara memulai untuk bercerita (terbuka) kepada orang yang terdekat atau yang dipercaya, memikirkan kembali dampak yang akan dihadapi kedepan, lebih banyak beribadah (mendekat kepada Tuhan), melakukan aturan planning untuk diri sendiri, mencoba enjoy terhadap segala sesuatu yang dilakukan. membuat selfcare menjadi selflove, menghubungi pihak medis seperti piskiater atau konseling.
Diharapkan dengan adanya kita disekelilingnya atau merasa kesadaran terhadap diri mampu membatu membangkitkan diri dan sekitar dalam membantu kehidupan yang lebih baik dengan adanya harapan dan tujuan yang baru. Sehingga tidak terpaku dan terpicu kedalam ranah permasalahan yang terus menerus ada dan dapat mengurangi sedikit ke khawatiran serta kecemasan yang tertumpuk dalam diri.
Ketika mulai dapat menerima dan menyayangi diri maka disitulah dimana diri juga dapat menerima banyak hal yang dapat dihadapi dengan lebih ringan dan dapat melihat lebih meluas ke depan. Hidup tidak selamanya sendiri namun dalam hidup kita dapat memilih jalan kita sendiri. Saat masalah selalu saja dapat menghampiri, percayalah kau dapat melaluinya. ***




















Users Today : 661
Users Yesterday : 1182
This Month : 12283
This Year : 179142
Total Users : 1061153
Views Today : 1948