Muara Teweh, borneodaily.co.id – Pemerintah Kabupaten Barito Utara melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dissiptaka) menggelar pameran naskah kuno sebagai upaya pelestarian warisan budaya dan literasi sejarah daerah.
Kepala Dissiptaka Barito Utara, Fakhri Fauzi, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan sekaligus mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, tentang nilai sejarah, budaya, dan identitas bangsa yang terkandung dalam manuskrip lama.
“Pameran ini menjadi sarana untuk mengenalkan, melestarikan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga naskah kuno sebagai warisan intelektual masa lalu,” ujar Fakhri di Muara Teweh, Selasa.
Pameran berlangsung di Perpustakaan Daerah Barito Utara, Jalan Durian, Muara Teweh, mulai 24 Februari hingga 13 Maret 2026. Pengunjung dapat melihat koleksi pada Senin hingga Kamis pukul 08.00–15.00 WIB, sementara Jumat dibuka pukul 08.00–15.30 WIB.
Sejumlah koleksi bersejarah ditampilkan dalam kegiatan tersebut, di antaranya manuskrip Al-Quran per juz beserta terjemahannya yang ditulis tangan oleh H. M. Tasin sekitar tahun 1870 atau telah berusia 156 tahun.
Selain itu, terdapat pula dua naskah khutbah Idul Fitri dan Idul Adha beraksara Arab. Salah satunya ditulis tangan oleh H. Abdullah bin H. M. Saleh, tokoh kelahiran Muara Teweh, yang disalin pada 4 November 1933 atau 15 Rajab 1352 Hijriah.
Sementara naskah lainnya merupakan karya H. Abdul Aziz bin H. Abdurrahim, yang dikenal sebagai Penghulu Landraat Barito di Kalimantan sekaligus Imam dan Khatib Masjid Jami Muara Teweh.
“Dua naskah khutbah ini telah berusia lebih dari delapan dekade dan menjadi bukti penting perjalanan sejarah keislaman di Barito Utara,” kata Fakhri didampingi Pustakawan Ahli Muda Dissiptaka, Firdausi Nuzulla.
Ia menjelaskan, dua naskah khutbah milik H. Ubaidillah Ahmad tersebut kini telah terdaftar di portal digital Khasanah Pustaka Nusantara (Khastara) milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan memperoleh nomor registrasi nasional.
Sementara manuskrip Al-Quran masih dalam proses alih media atau digitalisasi sebelum diajukan ke Khastara.
Menurut Fakhri, digitalisasi penting dilakukan mengingat kondisi fisik naskah kuno yang rentan rusak akibat usia dan faktor lingkungan.
“Melalui digitalisasi, isi naskah dapat tetap terjaga dan diakses oleh generasi mendatang tanpa harus menyentuh dokumen aslinya,” jelasnya.
Dissiptaka juga mengajak masyarakat yang memiliki naskah kuno agar bersedia meminjamkan koleksinya untuk didigitalisasi. Setelah proses selesai, naskah fisik akan dikembalikan kepada pemilik dalam kondisi lebih bersih dan terawat.
Fakhri menambahkan, digitalisasi juga memperluas akses publik terhadap manuskrip langka melalui internet, sehingga dapat dimanfaatkan oleh peneliti, akademisi, maupun masyarakat umum.
“Pameran ini bukan hanya ruang apresiasi sejarah, tetapi juga bagian dari upaya penyelamatan naskah kuno agar tidak punah,” tutupnya.(red)

























Users Today : 1007
Users Yesterday : 2540
This Month : 6935
This Year : 213769
Total Users : 1095780
Views Today : 1639