PALANGKA RAYA, Borneodaily.co.id – Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, bisnis UMKM merupakan salah satu sektor yang paling merasakan dampak adanya virus covid-19.
Adanya pandemi covid-19 di daerah setempat, berdampak terhadap kelangsungan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang mengalami penurunan penjualan, distribusi barang terhambat, menjadikan pelaku UMKM sulit mendapatkan bahan baku, produksi juga menurun yang menjadikan ancaman bagi perekonomian masyarakat.
Pandemi Covid-19 juga mengakibatkan perubahan pola konsumsi barang dan jasa oleh masyarakat, dari offline ke online.
Pelaku UMKM pasti sangat kesulitan untuk mencapai target penjualan yang harus dicapai saat pereknomian terganggu.
Dimaz Androva-Owner salah satu pengusaha kuliner di Palangka Raya mengatakan, untuk mengakali segala keterbatasan pada masa pandemi covid-19 pelaku UMKM dapat melakukan beberapa cara.
Pertama, mencari ide atau hal baru untuk membangkitkan usaha. Contohnya menggali informasi mengenai jenis makanan serta berinovasi mulai dari memperbaiki, meningkatkan serta mengembangkan produk atau membuat berbagai macam olahan makanan yang sedang digemari oleh masyarakat sekitar tempat tinggal.
Kedua, strategi yang bisa dilakukan, dengan Pivot, yaitu biasanya dilakukan untuk memulihkan atau mempertahankan usaha yang sebelumnya tidak dapat diterapkan saat mengahadapi kesulitan seperti dimasa pandemic seperti ini.
Ketiga, usaha yang dilakukan oleh pelaku UMKM dengan digitalisasi menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting dan memberikan kemudahan untuk berinteraksi serta memberikan informasi secara langsung dengan konsumen, memperluas pemasaran, dan meningkatkan penjualan.
Sementara itu, salah satu wanita yang menekuni usah kerajinanan anyaman rotan di Palangkaraya bernama Raudah. Wanita ini di masa pandemic Covid-19 tetap terus mengembangkan usaha kerajinan rotan terutama berbentuk tas dengan model kekinian untuk anak muda
Kerajinan manjawet (menganyam) rotan, bagi masyarakat Suku Dayak sudah dilakoni turun temurun. Tak hanya dibuat sebagai alas lantai yang biasa dikenal dengan nama lampit, kerajinan rotan juga dibuat berbagai macam kreasi mulai dari topi, sandal, sepatu hingga tas yang model dan coraknya tak kalah dengan buatan pabrikan.
Untuk diketahui, selama ini untuk bahan baku berupa rotan tak ada masalah bagi warga Kalimantan. Ini karena hampir semua warga memiliki kebun rotan sehingga bisa mengambil kapanpun saat dibutuhkan.
Selain itu warga juga sudah puluhan tahun terbiasa untuk mengolah rotan ini dijadikan berbagai jenis kerajinanan tangan seperti tas dengan berbagai bentuk hingga kerajinan lainnya.
Dan Kalimantan Tengah memiliki aset sumber daya alam yang besar dan harus dikelola secara bijaksana dalam rangka pertumbuhan hijau dan pembangunan berkelanjutan agar dapat menciptakan dan memberdayakan sumber daya Kalimantan Tengah yang berkualitas.
Dikatakan Raudah, walaupun pandemic Covid-19 masih berlangsung, ia tetap menggeluti usaha yang sudah ditekuni selama 12 tahun itu.
Diapun berharap agar pemerintah lebih memperhatikan para UMKM terlebih di masa pandemic ini, supaya bisa mampu lebih berkembang lagi membawa kearifan lokal Kalimantan Tengah. (hs/red)
























Users Today : 1025
Users Yesterday : 1349
This Month : 7733
This Year : 174592
Total Users : 1056603
Views Today : 6717