Oleh: Rohmah Nur H. ( Mahasiswa Administrasi Publik Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi)

Latar Belakang
Isu keberlanjutan dan kesejahteraan sosial kini menjadi sorotan di tingkat global. Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta ketimpangan sosial dan ekonomi menjadi tantangan besar bagi berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun pertumbuhan ekonomi terus meningkat, seringkali tidak diiringi dengan pemerataan hasil pembangunan. Di sisi lain, eksploitasi sumber daya alam masih menjadi ancaman terhadap kelestarian lingkungan. Dalam konteks ini, kebijakan fiskal berperan penting sebagai alat strategis pemerintah untuk mencapai pembangunan yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan.
Menurut Richard A. Musgrave (1959), kebijakan fiskal memiliki tiga fungsi utama: alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilisasi ekonomi. Melalui ketiga fungsi tersebut, pemerintah dapat mengarahkan ekonomi ke arah pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. Joseph Stiglitz (2015) menegaskan bahwa kebijakan fiskal yang dirancang secara progresif dapat menjadi instrumen efektif untuk mengurangi ketimpangan sosial sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang mengalami tantangan dalam mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi penting untuk mengurangi kemiskinan, namun di sisi lain, penggunaan sumber daya alam yang terlalu berlebihan dapat merusak ekosistem dan membahayakan masa depan. Oleh karena itu, pemerintah harus membuat kebijakan keuangan yang mendukung perlindungan lingkungan serta kesejahteraan rakyat, sebagai bentuk pembangunan yang berkelanjutan dan adil.
Pembahasan
- Makna dan Tujuan Kebijakan Fiskal dalam Pembangunan Berkelanjutan
Kebijakan fiskal adalah cara pemerintah mengelola pemasukan negara seperti pajak dan pengeluaran seperti belanja publik untuk memengaruhi ekonomi. Tujuannya bukan hanya menjaga stabilitas, tetapi juga memastikan pembangunan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Pembangunan berkelanjutan di Indonesia pada dasarnya mengacu pada prinsip yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yaitu pembangunan yang berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat saat ini tanpa mengorbankan hak generasi mendatang untuk menikmati sumber daya alam. Artinya, pembangunan harus memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara terpadu.
Sementara itu, pembangunan inklusif menurut Bappenas (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional) adalah pembangunan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok rentan dan miskin, agar dapat berpartisipasi aktif serta memperoleh manfaat yang adil dari pertumbuhan ekonomi. Pendekatan ini menekankan pentingnya pemerataan kesempatan, peningkatan akses terhadap layanan dasar, dan pengentasan kemiskinan.
Secara global, kebijakan fiskal yang berkelanjutan dan inklusif sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dari PBB, yang mencakup 17 tujuan untuk menyeimbangkan kemajuan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan.

Gambar 1 : 17 Poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Kebijakan fiskal berperan penting dalam mendukung SDGs, seperti:
- Tujuan 1 dan 10: mengurangi kemiskinan dan kesenjangan lewat bantuan sosial dan pajak progresif.
- Tujuan 3 dan 4: meningkatkan kesehatan dan pendidikan melalui belanja publik.
- Tujuan 7 dan 13: mendorong energi bersih dan aksi iklim lewat pajak karbon serta insentif hijau.
Dengan demikian, kebijakan fiskal yang berpihak pada keberlanjutan dan inklusivitas menjadi langkah nyata pemerintah untuk menyeimbangkan tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta mendukung tercapainya SDGs di Indonesia.
- Kebijakan Fiskal untuk Kelestarian Alam
Menjaga alam tetap lestari bukan hanya tugas masyarakat, tetapi juga harus diwujudkan melalui kebijakan fiskal yang mendukung perlindungan lingkungan. Ada beberapa strategi utama dalam kebijakan fiskal hijau, di antaranya:
- Penerapan pajak lingkungan (green tax):
Pajak karbon dan pajak emisi dapat mendorong perusahaan mengurangi polusi serta menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.
Contohnya, Indonesia telah menerapkan pajak karbon melalui Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).
- Subsidi hijau dan insentif energi terbarukan:
Pemerintah bisa mengalihkan subsidi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Langkah ini membantu mengurangi emisi gas rumah kaca serta mempercepat peralihan ke energi bersih.
- Belanja negara untuk infrastruktur hijau:
Anggaran pemerintah bisa digunakan untuk proyek konservasi, pengelolaan sampah, serta pemulihan hutan dan daerah aliran sungai.
Contohnya, proyek Green Sukuk (obligasi hijau) yang diterbitkan pemerintah digunakan untuk mendanai program pengelolaan air bersih dan energi terbarukan.
Kebijakan seperti ini menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan negara bisa menjadi alat utama untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian alam. Dengan pendekatan fiskal yang berpihak pada lingkungan, pembangunan tidak lagi merusak, tetapi justru meningkatkan kemampuan ekosistem dalam mendukung kehidupan.
- Kebijakan Fiskal untuk Kesejahteraan Masyarakat
Selain menjaga lingkungan hidup, kebijakan fiskal juga harus bisa mengurangi perbedaan antar orang dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah bisa menggunakan uang dari pajak untuk mendanai berbagai program yang membantu masyarakat, seperti:
- Program perlindungan sosial:
Bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), dan Kartu Indonesia Sehat membantu masyarakat yang kurang mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
- Peningkatan mutu pendidikan dan layanan kesehatan:
Uang yang digunakan pemerintah untuk pendidikan dan kesehatan adalah investasi untuk membangun generasi muda yang cerdas dan siap bersaing di masa depan.
- Pembangunan infrastruktur di daerah yang tertinggal:
Melalui Dana Desa dan dana khusus untuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), pemerintah berusaha mengurangi kesenjangan antar daerah.

Gambar 2 : Alokasi Anggaran Tahun 2023 – 2024
Menurut Amartya Sen (1999), kesejahteraan bukan hanya diukur dari peningkatan pendapatan, tetapi dari perluasan kebebasan dan kesempatan bagi semua orang. Dalam konteks itu, kebijakan fiskal yang berkeadilan adalah alat untuk memperluas akses masyarakat terhadap sumber daya, pendidikan, dan layanan publik, sehingga pembangunan menjadi benar-benar inklusif.
- Tantangan dan Arah Ke Depan
Penerapan kebijakan fiskal berkelanjutan dan inklusif di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan.
Pertama, ketergantungan pada sektor energi fosil masih sangat tinggi, padahal sektor ini menjadi penyumbang utama emisi karbon. Kedua, keterbatasan anggaran dan efisiensi penggunaan dana masih menjadi masalah. Ketiga, koordinasi antarinstansi dalam pelaksanaan kebijakan lintas sektor masih kurang memadai.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, perlu dilakukan beberapa langkah, seperti reformasi pajak yang ramah lingkungan, peningkatan transparansi dalam pengelolaan anggaran, serta kolaborasi dengan sektor swasta dalam pendanaan proyek berkelanjutan.
Pemerintah juga harus meningkatkan literasi masyarakat agar lebih mengerti pentingnya ekonomi hijau dan gaya hidup berkelanjutan.
Jika kebijakan fiskal diterapkan secara konsisten dalam arah tersebut, Indonesia tidak hanya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kesimpulan
Kebijakan fiskal memiliki peran penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. Melalui instrumen pajak, belanja negara, dan subsidi yang tepat sasar, pemerintah dapat menciptakan keseimbangan antara konservasi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam pembangunan ekonomi, tidak boleh hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga harus diarahkan pada pembangunan yang hijau, adil, dan berkeadilan sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Stiglitz (2015), kebijakan fiskal yang berpihak pada rakyat dan lingkungan merupakan kunci menuju “pertumbuhan yang benar-benar manusiawi.”
Dengan komitmen yang kuat dan pengelolah fiskal yang transparan, Indonesia bisa menjadi teladan bagi negara lain dalam mencapai ekonomi yang kuat, masyarakat yang makmur, serta lingkungan yang terjaga untuk generasi mendatang. ***




















Users Today : 696
Users Yesterday : 1191
This Month : 35765
This Year : 242599
Total Users : 1124610
Views Today : 1350